Assalamu'alaikum,
dii blog yang hampir terbengkalai ini , aku mau ngasih para readers sebuah Cerpen Islami :D
aku dapet dari grup MCOS STIKOM BALI nih, dibaca yaa.. MasyaAllah terharu :')
Said
tidak bisa menolak apa yang yang telah direncanakan orangtuanya, yaitu
perjodohan dengan perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya.
“Azizah adalah perempuan yang sangat baik. Dia pandai menata rumah.
Selain itu, dia adalah perempuan yatim piatu yang salihah,” kata ibunya.
“Bagiku, perempuan salihah yang akan mendampingimu jauh lebih berharga
dibandingkan semua perempuan cantik di dunia ini,” lanjut ayahnya
mantap.
Hati Said berontak. Namun, dia tidak ingin menjadi anak yang
durhaka karena menentang orangtua. Akhirnya, dia pasrah dan menuruti
kemauan orangtuanya.
“Jika kau setuju, Anakku. Kami akan menjemput Azizah di kampungnya,” ujar ayahnya.
Bagaimana mungkin aku tidak setuju ? kata Said dalam hati.
Said hanya mengangguk setuju. Ia tak ingin mengecewakan keinginan
orangtuanya. Jika perjodohan ini membuat orang tuanya bahagia, Said akan
menyetujuinya. Bagi Said, tidak ada yang lebih berharga selain
membahagiakan orangtuanya.
Paras Said yang tampan memudahkan dirinya
memilih perempun cantik mana pun yang akan dijadikan istrinya.
Sebenarnya, Said memiliki kriteria sendiri untuk calon pendampingnya.
Dia ingin mendapatkan seorang perempuan yang cantik. Semua harapannya
tinggal impian. Azizah, gadis yang dijodohkan dengannya, sama sekali
tidak dia ketahui rupanya.
Ketika khitbah, sekilas ia menatap wajah
calon istrinya. Menurut ayah dan ibunya, Azizah baik. Said bisa melihat
dari wajahnya yang teduh dan damai, tetapi tidak ada guratan kecantikan
di sana. Aaah…
Azizah adalah perempuan dengan rupa yang sederhana,
jauh dari kriterianya. Batin Said menjerit, tetapi dia tidak bisa
berbuat apa-apa. Di lubuk hatinya, dia tetap menilai kecantikan
perempuan bukan sekadar baik. Namun, perempuan itu haruslah memiliki
tubuh tinggi langsing, mata bulat lengkap dengan bulunya yang lentik,
hidung mancung, bibir ranum, dan kulit yang indah. Azizah, tidaklah
demikian.
Perjodohan harus terlaksana. Said tidak bisa menolak
keinginan orangtuanya. Dengan sekuat tenaga, Said mengusir kriteria
perempuan dan berusaha menerima Azizah apa adanya. Berusaha
mencintainya, walau rasanya itu akan sia-sia saja.
Akhirnya,
pernikahan teijadi. Said melihat Azizah begitu bahagia. Sinar matanya
mengatakan hal itu. Said berusaha untuk bahagia. Demi orangtuanya, Said
berusaha membuat semuanya terlihat bahagia, walau setiap malam hatinya
menjerit. Begitu sulit melepaskan diri dari kriteria perempuan
impiannya.
Hari demi hari, dia semakin tidak mampu berpura- pura
bahagia. Said merasa hidupnya sia-sia. Dia mulai marah dengan keadaan
itu. Ya, dia mengakui bahwa Azizah melayaninya dengan baik. Azizah
seorang istri yang baik, tetapi itu tidak cukup membuat Said
mencintainya.
Said mulai mengacuhkan Azizah. Azizah semakin
menyadari bahwa suaminya tidak mencintainya. Said semakin ketus hingga
akhirnya Azizah bertanya kepadanya, tetapi Said tak menjawab.
“Apa pun yang kaulakukan padaku, aku akan tetap mengabdi padamu sebab kau adalah suamiku,” ujar Azizah mantap.
Said hanya diam tak menyahut. Ternyata memang benar, walau Said
bertindak seenaknya, Azizah tetap melayani Said dengan baik. Azizah
memang istri yang baik dan benar kata orangtuanya, Azizah juga perempuan
yang salihah. Saat tengah malam, dia tak pernah absen shalat tahajud
dan melantunkan ayat Al-Quran. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat
hati Said tergugah. Kadang, Said memaki dirinya sendiri. Mengapa dia
begitu terobsesi pada perempuan cantik? Bukankah dalam agama Islam
diajarkan bahwa keimanan adalah faktor terpenting dalam memilih
pasangan?
“Aku hamil,” kata Azizah suatu pagi.
Said hanya menatapnya dengan dingin.
Pada suatu hari, di tengah perjalanan menuju rumah, Said bertemu dengan sahabat lamanya. Wajah sahabatnya itu sungguh berduka.
“Mengapa kau terlihat bersedih?” tanya Said.
Sahabat Said lalu mengajak Said berteduh di sebuah masjid.
“Aku ingin bercerita,” katanya.
Said berjalan mengikuti sahabatnya menuju masjid. Dalam hatinya ia
bertanya tentang hal yang ingin diceritakan sahabatnya itu. Seharusnya
dia bahagia karena telah menikahi seorang perempuan yang sangat cantik.
“Ini mengenai pernikahanku. Maafkan aku, ya Allah…,” desisnya pelan.
“Aku tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan istriku, tapi…” lanjutnya.
“Apa yang teijadi?” tanya Said.
“Kau tahu betapa aku sangat mencintai istriku. Kuakui aku jatuh cinta padanya karena dia sangat cantik dan sempurna.”
Ya…,” terbayang di benak Said wajah istri sahabatnya yang memang sangat cantik.
“Pada awalnya, orangtuaku tidak merestui hubungan kami. Hingga Ayah
menanyakan, mengapa kau tidak menikahi perempuan yang salihah? Ya,
memang benar istriku tidak sempurna dalam akhlaknya. Dia adalah
perempuan yang jarang mengaji dan shalat. Hatiku telah dibutakan oleh
kecantikannya.”
“Lalu?” tanya Said penasaran.
“Ternyata,
pernikahanku memang tidak bahagia. Istriku terlalu banyak menuntut.
Awalnya, aku memaklumi karena dia memang masih awam dalam hal agama. Aku
sebagai suaminya, akan berusaha menuntunnya. Namun, aku justru semakin
tersiksa dengan sikapnya. Jika tuntutannya tidak kukabulkan, dia tidak
memperlakukanku seperti seorang suami. Istriku sangat boros, bahkan kini
aku memiliki begitu banyak utang karenanya. Ketika aku menegurnya, dia
beralasan karena aku tidak bisa mencukupi kebutuhannya, padahal…”
Ya…?” mata Said membulat.
Tahukah kau? Orangtuaku kini jatuh miskin karena semua yang mereka miliki diberikan kepadaku demi membahagiakan istriku.”
Said tertegun.
“Kini, aku tidak memiliki apa-apa lagi. Istriku malah semakin tidak
menghormatiku,” kata sahabat Said sambil menitikkan air mata.
“Istriku meminta cerai. Alasannya, dia bisa lebih bahagia dengan lelaki kaya yang sanggup memberikan segalanya.”
Cerita sahabatnya itu membuat hati Said teriris. Apa yang sudah dia
lakukan pada Azizah sungguh tidak adil. Allah memberinya jodoh terbaik.
Azizah memang tidak cantik, tetapi dia adalah seorang perempuan yang
salihah. Dia adalah seorang istri yang sangat menghormati suaminya. Dia
adalah istri yang tak pernah menuntutnya, bahkan dia memberikan cinta
tanpa pamrih yang begitu indah.
Selepas mendengarkan kisah pilu
sahabatnya, diam- diam hati Said bertekad bahwa tidak ada lagi kriteria
perempuan impian dalam hatinya. Bidadari itu sudah dikirimkan Allah
untuknya.
“Azizah, aku akan berusaha mencintaimu,” kata Said dalam hatinya.
Sebelum pulang, Said menyempatkan diri ke sebuah toko untuk membeli
sebuah jilbab yang cantik. Dia ingin membuat Azizah bahagia dan
memberinya senyum yang manis. Setiba di rumah, ketukan pintu Said tidak
dihiraukan.
“Ke mana istriku?” tanyanya dalam hati.
Kreeeek… ternyata pintu rumah tidak terkunci.
“Assalamu alaikum. “
“Waalaikumsalam. Dari arah kamar, terdengar suara lirih Azizah.
Dengan langkah cepat, Said menuju kamar. Dilihatnya Azizah tergeletak di kasur dalam keadaan lemas.
Ya Allah, apa yang teijadi padamu?” Said memeluk Azizah.
“Aku terjatuh di kamar mandi,” jawab Azizah lirih.
“Kenapa kau tidak pergi ke rumah sakit? Tidak adakah yang menolongmu?” Said gusar.
“Aku belum meminta izinmu, Suamiku,”
Said menangis, dadanya terasa sesak. Dalam tangisannya, terbayang
sikapnya yang tidak adil kepada Azizah. Pengorbanan dan pengabdian
Azizah sungguh luar biasa. Said memeluk erat tubuh Azizah hingga Said
merasakan detak jantung Azizah berhenti. Azizah meninggal dalam
pelukannya dengan wajah yang sangat teduh. Dia terlihat cantik. Dalam
penyesalan yang menyeruak, Said merasakan angin sejuk menghampiri
dirinya. Cahaya cinta yang memancar dari wajah Azizah semakin kuat
untuknya. Said menyesal karena tidak memberikan hatinya untuk perempuan
itu.
Di samping tubuh Azizah, terdapat sepucuk surat. Said lalu membacanya dengan pandangan yang terhalang air mata.
Suamiku, maafkan aku karena tidak membuatmu bahagia. Berikan ridha dan ikhlasmu untukku dan anak kita.
Aku mencintaimu.
ISTRIMU
Said menangis tersedu-sedu. Kenapa cinta datang terlambat? Allah menghukumnya dengan penyesalan yang luar biasa.
“Sesungguhnya, dunia seluruhnya adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita (istri) yang salihah.”
-HR Muslim. —
Oleh : Ustadz Mukrim Al-Bugizy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar