Kamis, 28 November 2013

Menunggu di Bawah Shiratal Mustaqim

Umat Muslim di seluruh penjuru dunia, sesungguhnya Nabi kita Rasullullah SAW sangat menyayangi dan merindukan kita, tapi kita seringkali mengabaikan dan tidak mengamalkan hadits Rasulullah.. Ya Allah.. Astaghfirullahhaladzim :""
menangislah yang membaca artikel ini ..

Siapa yang tidak tahu jembatan sirotol mustaqim? Hampir dipastikan umat muslim mengetahui cerita “keangkeran jembatan tersebut”. Bagaimana tidak angker, kalau di bawah jembatan tersebut terdapat neraka yang sangat panas.
Dalam keyakinan umat muslim, semua manusia akan melewati jembatan tersebut setelah kiamat kelak. Tidak ada orang yang bisa selamat melewati jembatan tersebut kecuali dengan amal baiknya. Konon diceritakan bahwa shirotol mustaqim sangat kecil dan digambarkan bagai sehelai rambut.
Cerita tersebut sering kita dengar dan bahkan sejak kecil. Cerita yang mungkin baru kita dengar adalah ternyata di bawah jembatan itu ada seorang manusia yang sangat mulia yaitu Nabi Muhammad saw. Apakah Nabi tidak bisa melewati jembatan tersebut sehingga terjatuh ke dalam neraka?
Cerita ini diperoleh dari keterangan seorang peceramah pada acara maulid Nabi di daerah Condet Balekambang Jakarta Timur. Penceramah bercerita, pada suatu ketika Aisyah, istri Rasulallah, bertanya kepada rasulallah dengan air mata menetes, “ya Rasulullah dimana kami dapat menjumpaimu kelak di akhirat?” Rasullalah pun menjawab dengan tenang “Aku dapat dijumpai di bawah jembatan sirotol mustaqim” beliau melanjutkan “jika aku tidak ada disana, cari aku di tempat timbangan amal baik buruk manusia”.
Aisyah pun mengeryitkan dahinya seraya bertanya “mengapa Rasulullah ada di kedua tempat tersebut?” Rasulullah pun menjelaskan, umatku akan melewati jembatan sirotol mustaqim dan banyak yang tidak bisa melewatinya sehingga terjatuh ke dalam api neraka, meskipun aku sudah melarang untuk jatuh tetapi mereka banyak yang berjatuhan. Aku tidak bisa membiarkan mereka terpanggang panasnya api neraka, aku meraih meraka satu persatu untuk menolongnya.”
Aisyah mendapat penjelasan Rasulullah seperti itu semakin tak tahan air matanya keluar, begitu besar kecintaan dan kepedulian Rasulullah kepada ummatnya. Aisyah pun bertanya lagi, lalu mengapa Rasulullah berada pada tempat timbangan amal baik buruk manusia? Rasulullah pun melanjutkan penjelasannya. “Aku berada di tempat itu untuk melihat timbangan amal baik-buruk umatku, jika ada umatku yang timbangan amal buruknya lebih berat ketimbang amal baiknya, aku akan menyimpan kartu di timbangan amal baiknya hingga amal baiknya lebih berat”.
Mendengar penjelasan Rasulullah tersebut, Aisyah secara kritis bertanya “apa yang Rasulallah tambahkan dalam timbangan amal baik umat tersebut?”.  Rasulullah pun kembali menjelaskan “aku menambahkan apa yang telah umatku lakukan yaitu mengucapkan shalawat kepadaku. Apa yang mereka ucapkan aku kembalikan kepada mereka”.
Demikian hikmah maulid yang telah disampaikan oleh seorang penceramah di  Mushola al-Barkah Balekambang. Dialog dalam tulisan ini, tidak persis sama dengan apa yang disampaikan oleh penceramah. Tetapi itu yang dapat saya tangkap. Semoga bermanfaat.

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/07/menunggu-di-bawah-shirotol-mustaqim-444973.html

Selasa, 26 November 2013

PESONA KECANTIKAN MUSLIMAH

Assalamu'alaikum, 
dii blog yang hampir terbengkalai ini , aku mau ngasih para readers sebuah Cerpen Islami :D
aku dapet dari grup MCOS STIKOM BALI nih, dibaca yaa.. MasyaAllah terharu :')
Said tidak bisa menolak apa yang yang telah direncanakan orangtuanya, yaitu perjodohan dengan perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya.
“Azizah adalah perempuan yang sangat baik. Dia pandai menata rumah. Selain itu, dia adalah perempuan yatim piatu yang salihah,” kata ibunya.
“Bagiku, perempuan salihah yang akan mendampingimu jauh lebih berharga dibandingkan semua perempuan cantik di dunia ini,” lanjut ayahnya mantap.
Hati Said berontak. Namun, dia tidak ingin menjadi anak yang durhaka karena menentang orangtua. Akhirnya, dia pasrah dan menuruti kemauan orangtuanya.
“Jika kau setuju, Anakku. Kami akan menjemput Azizah di kampungnya,” ujar ayahnya.
Bagaimana mungkin aku tidak setuju ? kata Said dalam hati.
Said hanya mengangguk setuju. Ia tak ingin mengecewakan keinginan orangtuanya. Jika perjodohan ini membuat orang tuanya bahagia, Said akan menyetujuinya. Bagi Said, tidak ada yang lebih berharga selain membahagiakan orangtuanya.
Paras Said yang tampan memudahkan dirinya memilih perempun cantik mana pun yang akan dijadikan istrinya. Sebenarnya, Said memiliki kriteria sendiri untuk calon pendampingnya. Dia ingin mendapatkan seorang perempuan yang cantik. Semua harapannya tinggal impian. Azizah, gadis yang dijodohkan dengannya, sama sekali tidak dia ketahui rupanya.
Ketika khitbah, sekilas ia menatap wajah calon istrinya. Menurut ayah dan ibunya, Azizah baik. Said bisa melihat dari wajahnya yang teduh dan damai, tetapi tidak ada guratan kecantikan di sana. Aaah…
Azizah adalah perempuan dengan rupa yang sederhana, jauh dari kriterianya. Batin Said menjerit, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Di lubuk hatinya, dia tetap menilai kecantikan perempuan bukan sekadar baik. Namun, perempuan itu haruslah memiliki tubuh tinggi langsing, mata bulat lengkap dengan bulunya yang lentik, hidung mancung, bibir ranum, dan kulit yang indah. Azizah, tidaklah demikian.
Perjodohan harus terlaksana. Said tidak bisa menolak keinginan orangtuanya. Dengan sekuat tenaga, Said mengusir kriteria perempuan dan berusaha menerima Azizah apa adanya. Berusaha mencintainya, walau rasanya itu akan sia-sia saja.
Akhirnya, pernikahan teijadi. Said melihat Azizah begitu bahagia. Sinar matanya mengatakan hal itu. Said berusaha untuk bahagia. Demi orangtuanya, Said berusaha membuat semuanya terlihat bahagia, walau setiap malam hatinya menjerit. Begitu sulit melepaskan diri dari kriteria perempuan impiannya.
Hari demi hari, dia semakin tidak mampu berpura- pura bahagia. Said merasa hidupnya sia-sia. Dia mulai marah dengan keadaan itu. Ya, dia mengakui bahwa Azizah melayaninya dengan baik. Azizah seorang istri yang baik, tetapi itu tidak cukup membuat Said mencintainya.
Said mulai mengacuhkan Azizah. Azizah semakin menyadari bahwa suaminya tidak mencintainya. Said semakin ketus hingga akhirnya Azizah bertanya kepadanya, tetapi Said tak menjawab.
“Apa pun yang kaulakukan padaku, aku akan tetap mengabdi padamu sebab kau adalah suamiku,” ujar Azizah mantap.
Said hanya diam tak menyahut. Ternyata memang benar, walau Said bertindak seenaknya, Azizah tetap melayani Said dengan baik. Azizah memang istri yang baik dan benar kata orangtuanya, Azizah juga perempuan yang salihah. Saat tengah malam, dia tak pernah absen shalat tahajud dan melantunkan ayat Al-Quran. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat hati Said tergugah. Kadang, Said memaki dirinya sendiri. Mengapa dia begitu terobsesi pada perempuan cantik? Bukankah dalam agama Islam diajarkan bahwa keimanan adalah faktor terpenting dalam memilih pasangan?
“Aku hamil,” kata Azizah suatu pagi.
Said hanya menatapnya dengan dingin.
Pada suatu hari, di tengah perjalanan menuju rumah, Said bertemu dengan sahabat lamanya. Wajah sahabatnya itu sungguh berduka.
“Mengapa kau terlihat bersedih?” tanya Said.
Sahabat Said lalu mengajak Said berteduh di sebuah masjid.
“Aku ingin bercerita,” katanya.
Said berjalan mengikuti sahabatnya menuju masjid. Dalam hatinya ia bertanya tentang hal yang ingin diceritakan sahabatnya itu. Seharusnya dia bahagia karena telah menikahi seorang perempuan yang sangat cantik.
“Ini mengenai pernikahanku. Maafkan aku, ya Allah…,” desisnya pelan. “Aku tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan istriku, tapi…” lanjutnya.
“Apa yang teijadi?” tanya Said.
“Kau tahu betapa aku sangat mencintai istriku. Kuakui aku jatuh cinta padanya karena dia sangat cantik dan sempurna.”
Ya…,” terbayang di benak Said wajah istri sahabatnya yang memang sangat cantik.
“Pada awalnya, orangtuaku tidak merestui hubungan kami. Hingga Ayah menanyakan, mengapa kau tidak menikahi perempuan yang salihah? Ya, memang benar istriku tidak sempurna dalam akhlaknya. Dia adalah perempuan yang jarang mengaji dan shalat. Hatiku telah dibutakan oleh kecantikannya.”
“Lalu?” tanya Said penasaran.
“Ternyata, pernikahanku memang tidak bahagia. Istriku terlalu banyak menuntut. Awalnya, aku memaklumi karena dia memang masih awam dalam hal agama. Aku sebagai suaminya, akan berusaha menuntunnya. Namun, aku justru semakin tersiksa dengan sikapnya. Jika tuntutannya tidak kukabulkan, dia tidak memperlakukanku seperti seorang suami. Istriku sangat boros, bahkan kini aku memiliki begitu banyak utang karenanya. Ketika aku menegurnya, dia beralasan karena aku tidak bisa mencukupi kebutuhannya, padahal…”
Ya…?” mata Said membulat.
Tahukah kau? Orangtuaku kini jatuh miskin karena semua yang mereka miliki diberikan kepadaku demi membahagiakan istriku.”
Said tertegun.
“Kini, aku tidak memiliki apa-apa lagi. Istriku malah semakin tidak menghormatiku,” kata sahabat Said sambil menitikkan air mata.
“Istriku meminta cerai. Alasannya, dia bisa lebih bahagia dengan lelaki kaya yang sanggup memberikan segalanya.”
Cerita sahabatnya itu membuat hati Said teriris. Apa yang sudah dia lakukan pada Azizah sungguh tidak adil. Allah memberinya jodoh terbaik. Azizah memang tidak cantik, tetapi dia adalah seorang perempuan yang salihah. Dia adalah seorang istri yang sangat menghormati suaminya. Dia adalah istri yang tak pernah menuntutnya, bahkan dia memberikan cinta tanpa pamrih yang begitu indah.
Selepas mendengarkan kisah pilu sahabatnya, diam- diam hati Said bertekad bahwa tidak ada lagi kriteria perempuan impian dalam hatinya. Bidadari itu sudah dikirimkan Allah untuknya.
“Azizah, aku akan berusaha mencintaimu,” kata Said dalam hatinya.
Sebelum pulang, Said menyempatkan diri ke sebuah toko untuk membeli sebuah jilbab yang cantik. Dia ingin membuat Azizah bahagia dan memberinya senyum yang manis. Setiba di rumah, ketukan pintu Said tidak dihiraukan.
“Ke mana istriku?” tanyanya dalam hati.
Kreeeek… ternyata pintu rumah tidak terkunci.
“Assalamu alaikum. “
“Waalaikumsalam. Dari arah kamar, terdengar suara lirih Azizah.
Dengan langkah cepat, Said menuju kamar. Dilihatnya Azizah tergeletak di kasur dalam keadaan lemas.
Ya Allah, apa yang teijadi padamu?” Said memeluk Azizah.
“Aku terjatuh di kamar mandi,” jawab Azizah lirih.
“Kenapa kau tidak pergi ke rumah sakit? Tidak adakah yang menolongmu?” Said gusar.
“Aku belum meminta izinmu, Suamiku,”
Said menangis, dadanya terasa sesak. Dalam tangisannya, terbayang sikapnya yang tidak adil kepada Azizah. Pengorbanan dan pengabdian Azizah sungguh luar biasa. Said memeluk erat tubuh Azizah hingga Said merasakan detak jantung Azizah berhenti. Azizah meninggal dalam pelukannya dengan wajah yang sangat teduh. Dia terlihat cantik. Dalam penyesalan yang menyeruak, Said merasakan angin sejuk menghampiri dirinya. Cahaya cinta yang memancar dari wajah Azizah semakin kuat untuknya. Said menyesal karena tidak memberikan hatinya untuk perempuan itu.
Di samping tubuh Azizah, terdapat sepucuk surat. Said lalu membacanya dengan pandangan yang terhalang air mata.
Suamiku, maafkan aku karena tidak membuatmu bahagia. Berikan ridha dan ikhlasmu untukku dan anak kita.
Aku mencintaimu.
ISTRIMU
Said menangis tersedu-sedu. Kenapa cinta datang terlambat? Allah menghukumnya dengan penyesalan yang luar biasa.
“Sesungguhnya, dunia seluruhnya adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita (istri) yang salihah.”
-HR Muslim. —
Oleh : Ustadz Mukrim Al-Bugizy

Senin, 25 November 2013

Manfaat Surat Al Mulk

KELEBIHAN SURAH AL MULK, AR RAHMAN, DAN AL WAQIAH
Kelebihan Surah Al Mulk

bnu Abbas berkata: “Pada suatu hari ada seseorang menghampar jubahnya di atas kuburan dan ia tidak tahu bahwa tempat itu adalah kuburan, ia membaca surat Al-Mulk, kemudian ia mendengar suara jeritan dari kuburan itu: Inilah yang menyelamatkan aku. Kemudian kejadian itu diceriterakan kepada Rasulullah saw. Lalu beliau bersabda: Surat Al-Mulk dapat menyelamatkan penghuni kubur dari azab kubur.” (Ad-Da’awat Ar-Rawandi, hlm 279/817; Al-Bihar 82/ 64, 92/313/2, 102/269/

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: “Surat Al-Mulk adalah penghalang dari siksa kubur, surat ini termaktub di dalam Taurat, barangsiapa yang membacanya di malam hari ia akan memperoleh banyak manfaat dan kebaikan, …Sungguh aku membacanya dalam shalat sunnah sesudah Isya’ dalam keadaan duduk. Ayahku (sa) membacanya pada siang dan malam. Barangsiapa yang membacanya, maka ketika malaikat Munkar dan Nakir akan masuk ke kuburnya dari arah kedua kakinya, kedua kakinya berkata kepada mereka: kalian tidak ada jalan ke arahku, karena hamba ini berpijak padaku lalu ia membaca surat Al-Mulk setiap siang dan malam; ketika mereka datang kepadanya dari rongganya, rongganya berkata kepada mereka: kalian tidak ada jalan ke arahku, karena hamba ini telah menjagaku dengan surat Al-Mulk; ketika mereka datang kepadanya dari arah lisannya, lisannya berkata kepada mereka: kalian tidak ada jalan ke arahku, karena hamba ini telah membaca surat Al-Mulk setiap siang dan malam denganku.” (Al-Kafi 2/233/hadis 2)

Imam Muhammad Al-Baqir (sa): “Bacalah surat Al-Mulk, karena surat ini menjadi penyelamat dari siksa kubur.”